Istilah ilmu diambil dari Quran عِلْمٌ.
Syarat-syarat sebuah ilmu menurut kesepakatan ilmiah adalah metodis, sistematis, analitis dan objektif. Saat ini, asas keilmuan adalah hubungan timbal balik antara manusia dan alam semesta. Manusia sebagai subjek meneliti semua hal yang ada di alam ini sebagai objek. Dengan semua syarat ilmiah tersebut, maka Quran adalah sebuah kumpulan ilmu, dengan alasan berikut:
5.1.1 Metodis
Menurut Quran, ada tiga pokok dalam asasnya, yang saling terkait dengan sebuah garis linier. Yaitu Allah, manusia dan alam.
١للّه
manusia
Quran membebaskan manusia untuk mengkaji semua ciptaanNya, alam semesta dan seisinya. Jika dianalagikan, matahari menyinari benda-benda di sekitarnya. Matahari menyinari bumi dan bulan. Di malam hari, sinar yang diterima bulan dari matahari, ia pantulkan ke bumi. Intinya, ada garis pantul dari matahari ke bulan, dari bulan ke bumi. Tidak mungkin bulan menerangi matahari.
Allah memberi pengetahuan pada manusia sejak manusia pertama ada di bumi ini. Allah memberi ilmu kepada Adam as dan memberinya akal pikiran. Allah mengajarkan asma-asmaNya. Asma, yaitu Ismun dalam bahasa Arab, dan dunia mengadopsinya menjadi kata Isme. Ismun berarti ilmu, paham, asas, pandangan atau nama. Ditilik dari keseluruhan ayat di dalam Quran, maka Ismun berarti ilmu atau ajaran, dan bukanlah nama seperti yang umumnya ada. Itu artinya, Allah telah mengajarkan ilmu-ilmuNya tentang ciptaanNya kepada Adam. Karena pengetahuan inilah yang menyebabkan perintah Allah kepada iblis untuk sujud kepada Adam.
Allah menciptakan manusia dengan naluri ilmiahnya, keinginan dasarnya, yaitu memiliki rasa ingin tahu. Setelah pengetahuan asma-asma (ilmu) yang diberikannya pada Adam, Allah pun menurunkan kitab-kitab suciNya untuk membimbing golongan kaumNya. Dan Quran adalah kitab suci terakhir untuk membimbing seluruh umat manusia. Quran menjadi petunjuk manusia dalam menjalani kehidupannya, termasuk dalam menjalani sifat insaniahnya yaitu memenuhi keingintahuannya.
Di dunia barat, tidak terdapat aturan keilmuwan seperti ini. Setiap hal bisa dikaji oleh manusia, termasuk sang khalik, Allah SWT. Ini sama dengan analogi bulan menerangi matahari. Sedangkan bulan hanya mampu memantulkan (tidak memiliki sinarnya sendiri) cahayanya pada bumi.
Allah adalah pencipta dan manusia adalah makhluk ciptaanNya. Mungkinkah ciptaan meneliti penciptanya, mampukah makhluk mengkaji Khalik?
5.1.2 Sistematis
Quran disusun oleh Allah dan bukan disusun atas kehendak Muhammad.
سورۃ١نزلناهاوفرضاهاو١نزلنافيها١يتبينا
Quran disusun secara sistematika berikut:
Al Fatihah فاتحه Surat-surat Panjang Surat-surat pendek
Pendahuluan Uraian Kesimpulan
alFatihah di awal sebagai pembuka karena al Fatihah merupakan ummul kitab atau induk Quran. Makna kandungan
Sistematika Quran
a. Sistematika
Susunan Quran ditentukan oleh Allah. Turunnya ayat-ayat Quran sesuai dengan kondisi yang sedang dihadapi. Sebelum Quran diturunkan kepada Muhammad, Quran telah siap seluruhnya100% di Lauh Mahfuz. Surat-surat di dalam Quran saling menjelaskan satu sama lain.
b. Sistematika Ayat
5.1.3 Analitis
Analisa adalah penjajakan suatu hipotesa atau dugaan ke dalam pembuktian. Demikian pula Quran, di mana seluruh isinya dapat dibawa ke dalam pengujian atau pembuktian. Walaupun, karena keterbatasan ilmu manusia, pembuktian kebenaran Quran terjadi secara bertahap, waktu demi waktu.
Contohnya, dalam Quran ada ayat-ayat tentang prediksi kejadian yang saat itu belum terjadi. Misalnya, tentang mimpi Nabi Yusuf yang menceritakan sebelas bintang, matahari dan bulan sujud padanya. Artinya, sebelas saudara Nabi Yusuf tunduk pada Yusuf dan menyatakan penyesalan atas sikap mereka yang buruk. Dan mimpi ini terbukti di lain masa, saat Yusuf menjadi raja di Mesir.
Ayat lainnya bercerita tentang kekalahan pasukan Quraish ketika berperang dengan Nabi. Cerita ini terbukti dengan kekalahan pasukan Quraish dalam perang XXXX.
Dalam hal science, saat Quran turun, ilmu pengetahuan di dunia barat belum berkembang seperti sekarang. Quran telah menuturkan tentang proses penciptaan manusia, bumi dan alam semesta. Pada saat itu orang-orang belum memahami sepenuhnya realitanya dalam dunia nyata. Jika baru pada abad 17 teori geosentris milik plato dan juga aristotelas tergeser oleh heliosentris sang Galileo Galilei yang didukung
Dan jika pada abad ke 18, orang-orang baru mengkaji unsur-unsur pembentuk manusia dan kehidupan. Quran telah menyatakannya berabad-abad sebelumnya. Allah menurunkan Quran bukanlah untuk menghentikan keingintahuan manusia tentang alam semesta. Quran diperuntukkan sebagai landasan berpijak yang benar untuk membantu semua langkah manusia, termasuk langkah dalam ilmu pengetahuan.
5.1.4 Objektif
Dalam
5.2 Iqra Alam Semesta
5.2.1 Fenomena Manusia
Bumi ini dihuni oleh enam setengah milyar lebih manusia dengan keanekaragaman ras. Secara garis besar manusia memang terkelompok dalam ras-ras tertentu, ras
Suatu hari Anda dan seorang teman Anda berjalan-jalan di sebuah mal, dan Anda berdua terhenti untuk menyaksikan show promo album di aula mal itu dan Anda menganggap yang Anda lihat, Anda sentuh, atau suara yang Anda dengar adalah sama dengan dilihat, disentuh atau didengar oleh teman Anda atau orang yang berada di dekat Anda, maka sebaiknya Anda jangan terlalu yakin.
Yakinkah Anda, bahwa telinga yang Anda miliki, mata Anda, susunan saraf pada otak Anda adalah sama dengan yang dimiliki milyaran manusia di bumi ini? Pernahkah Anda berbeda pendapat dengan teman Anda? Berbeda selera makanan, baju dan lainnya? Pernahkah Anda mengekspresikan emosi secara berbeda dengan teman Anda? Pernahkah Anda bertanya mengapa kita semua berbeda? Sebelum kita mencari tahu sebabnya dan menemukan jawaban atas semua ketidaktahuan ini, pertama kita patut terlebih dulu untuk menyadari dan menghargai keanekaragaman di antara kita. Inilah karunia.
Keanekaragaman adalah sebuah berkah dari Tuhan. Manusialah yang membuatnya bencana. Seorang yang pintar menganggap remeh orang yang ber IQ (intelegence quation) rendah, yang rupawan menghina yang buruk rupa, yang kaya menyepelekan yang miskin, yang sehat mencela yang sedang sakit, yang tidak cacat fisik memperolok-olok yang cacat. Lalu, apakah itu? Itulah manusia yang membuat berkah menjadi bencana. Itu hanyalah sebuah perbedaan, sama seperti banyak perbedaan lainnya di alam ini. Alam semesta adalah sebuah keanekaragaman.
Dalam subjudul ini, tulisan ini akan bercerita tentang fenomena perbedaan dalam diri manusia. Dalam lingkup awam yang lebih luas, perbedaan ini dikenal dalam istilah “kelainan”. Kembali pada makna harfiahnya, “kelainan” hanyalah sesuatu yang lain dari kebanyakan orang, hanyalah suatu perbedaan dari yang sudah ada sebelumnya.
a. Kelainan Genetis
Chimeraisme
Dalam Zoology, chimera adalah hewan yang memiliki dua atau lebih populasi yang berbeda yang secara genetik memisahkan sel-sel yang berasal dari zigot-zigot yang berbeda. Jika sel-sel yang berbeda itu muncul dari zigot yang sama, disebut mosaicism.
Chimera-chimera terbentu dari empat sel induk (dua sel telur yang fertil atau ) atau dari tiga sel induk. Sel induk adalah sel dari kedua orang tua. Di mana setiap populasi sel-sel ini mempertahan karakternya masing-masing dan hasilnya adalah hewan dengan perpaduan karakter-karakter tersebut.
Kondisi ini mempengaruhi infusi, transplantasi organ tubuh. Pada kembar flaternal, chimerism yang terjadi biasanya memunculkan perbedaan jenis tipe darah pada kembar tersebut.
Di sebuah rumah sakit di Amerika Serikat, ditemukan adanya individu yang memiliki dua jenis golongan darah di dalam tubuhnya.
www.thefetus.net
FOP (Fibrodysplasia Ossificans Progressive)
Pada April 2006 ditemukan adanya gejala FOP pada Ian Cali dan Whitney Weldon. Dr Fred Kaplan di
www.IFOPA.ORG
Primordial Dwarfism
www.primordialdwarfism.com
Synesthesia
Kata ‘Synesthesia’ berasal dari bahasa Yunani kuno, ‘aisthesis’ yang berarti sensasi, citra rasa. Ini adalah kondisi neurologi di mana seseorang bisa merasakan dua sensasi indera yang berbeda pada satu jenis penggunaan indera. Misalnya, seseorang yang bisa melihat warna pada suara yang ia dengar, atau seseorang yang bisa melihat warna untuk jenis hruf tertentu pada serangkaian tulisan yang berwarna hitam. Jadi, seorang pengidap Synesthesia mampu merasakan dua sensasi sekaligus pada penggunaan satu satu jenis indera.
Down syndrome
b. Kelainan psikologis
Skizofrenia
Psikopath
Depresi
5.2.2 Fenomena Alam
1. Penciptaan Alam
2. Kinerja Alam
3. Disfungsi Alam (melenceng)
4. Bencana-bencana Besar Sepanjang Sejarah
Letusan gunung berapi
Bencana alam letusan gunung tidak menjadi musibah bagi manusia yang jauh dari tempat aktivitas gunung berapi. Salahkah jika kita memilih untuk tinggal di lokasi gunung berapi? Tidak salah. Namun ada resiko yang harus dipahami. Setiap pilihan mengandung resiko. Tinggal di gunung berapi beresiko terkena letusan gunung berapi, tinggal di tepi pantai beresiko terkena aktivitas gelombang laut, tinggal di
Gempa
Gempa bumi adalah getaran permukaan bumi. Gempa bumi terjadi karena permukaan bumi bergerak mencari kesetimbangan. Gempa biasanya terjadi pada pertemuan antar lempengan.
Gempa bumi pada dasarnya tidak mencelakai manusia. Runtuhnya bangunanlah yang mencelakai manusia. Lalu, salahkah manusia jika membangun bangunan? Tidak. Namun pembangunan yang berwawasan bijaklah yang seharusnya dikerjakan manusia. Manusia hidup bersama alam, sudah seharusnya manusia bisa memahami alam.
Sebagian orang mampu membuat bangunan dengan bahan beton bertulang yang tahan gempa. Tapi bagaimana dengan orang-orang yang tidak mampu membuat bangunan seperti itu?
Itulah permasalahan manusia. Mengapa tidak seluruh manusia berada dalam kondisi mampu (secara ipoleksosbudhankam)?
Oleh karena, musibah ada karena perbuatan manusia, sebaiknya manusia saling menolong terutama ketika musibah terjadi. Sikap saling menolong harus ada selamanya. Ini adalah wujud dari keyakinan bahwa setiap saling terkait. Keterkaitan ini membentuk sebuah jaring-jaring. Jaring-jaring kehidupan.
Manusia yang tidak merasa terkait dengan manusia lainnya, adalah manusia yang tidak menyadari adanya jaring-jaring ini. Sikap merasa saling terkait ini adalah sikap terbaik manusia demi menjaga kelangsungan hidup manusia.
Angin puting beliung
Dalam dekade ini, isu pemanasan global ramai dibicarakan. Pemanasan global terjadi karena adanya efek rumah kaca (green house) di permukaan atmosfer bumi yang menahan pemantulan kembali sinar matahari. Radiasi sinar matahari tertahan di dalam atmosfer bumi. Akibatnya suhu di permukaan bumi meningkat. Semakin banyak efek rumah kaca di atmosfer bumi, suhu permukaan bumi semakin meningkat. Itulah pemanasan global. Apa yang menimbulkan efek rumah kaca?
Istilah rumah kaca (green house) itu sendiri digunakan karena adanya kesamaan peran lapisan karbondioksida di permukaan atmosfer dengan rumah kaca (green house). Rumah kaca melindungi tanaman dari perubahan kondisi alam yang drastis. Rumah kaca melindungi tanaman yang berada di bawahnya dari cahaya matahari yang terlalu terik yang mengakibatkan penguapan air yang berlebihan dan curah hujan yang terlalu deras. Begitu pula halnya dengan efek rumah kaca hasil karbondioksida di permukaan bumi. Ia menjaga agar bumi tetap hangat dan memungkinkannya kelangsungan makhluk hidup. Rumah kaca adalah kumpulan karbon dioksida yang saling berkmpul membentuk ikatan dan mengambang di permukaan atmosfer bumi.
Dari manakah karbon dioksida tersebut? Dari manusia. Manusia adalah penghasil karbon dioksida terbesar di bumi ini. Manusia dan hewan menghirup oksigen dan membuang karbon dioksida. Proses pembakaran membutuhkan oksigen dan menghasilkan karbon dioksida. Dan sampai saat ini, kegiatan manusia dipenuhi dengan melakukan pembakaran, contohnya, pembangkit listrik (batubara dan bahan bakar minyak), penggunaan kendaraan bermotor dan ironisnya adalah banyaknya manusia yang membakar hutan. Sedangkan hutan adalah penghasil oksigen dan pemakai karbondioksida terbesar di bumi ini. Artinya hutan dan manusia adalah dua sahabat yang saling menguntungkan.
Dalam jumlah yang cukup, sebenarnya green house berperan amat penting. Tanpanya tidak mungkin ada kehidupan di bumi ini. Tanpa karbondioksida yang menyelimuti bumi, suhu bumi di malam hari akan sangat luar biasa dingin karena semua panas atau kalor terlepas ke angkasa. Namun dengan jumlah berlebihan, green house menyebabkan suhu atmosfer bumi terus memanas. Akibatnya, gejala-gejala alam timbul sebagai reaksi atas memanasnya udara, di antaranya angin (pergerakan udara) yang kencang, gelombang air laut yang bergerak secara drastis, gempa bumi dan sebagainya.
Setelah semua perbuatan manusia yang menghasilkan karbondioksida dan menimbulkan efek rumah kaca itu, pantaskah manusia mengatakan bahwa bencana datang dari Tuhan? Ini adalah lelucon terburuk yang pernah dibuat oleh manusia.
Bagaimana bagi manusia yang tidak mengetahui akibat perbuatannya? Bagi mereka, pelimpahan tanggung jawab kepada Tuhan ini disebabkan keterbatasan nalarnya. Namun bagi mereka yang mengerti tentang ilmu alam, melimpahkan adanya bencana karena perbuatan Tuhan, adalah tindakan yang sangat tidak bermoral. Sebuah fitnah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.
Proses Timbulnya Bencana
Bencana Alami dan Bencana Alam Humanis
Bencana alami adalah bencana yang terjadi tanpa peran serta manusia secara aktif sebagai faktor penyebabnya. Gempa bumi adalah contoh bencana alam mutlak. Hingga saat ini, manusia masih meyakini gempa bumi sebagai bencana alam mutlak. Sedangkan banjir, sebagian besar mengasumsikan sebagai bencana alam humanis akibat ulah manusia. Kedua jenis bencana alam ini bisa dipilah berdasarkan bisa tidaknya dilakukan upaya pencegahan. Bencana alam yang bisa dicegah atau dihilangkan oleh upaya manusia dianggap sebagai bencana alam humanis. Sebaliknya, jika tidak bisa dilakukan upaya pencegahan oleh manusia, maka bencana alam tersebut merupakan bencana alami.
Jaringan Nasib
Ini adalah sebuah pengamatan terhadap manusia dan alam. Pengamatan ini untuk mencari jawaban dari sebuah pertanyaan, Siapa Penentu Nasib Manusia?
Saat ini, enam setengah milyar lebih manusia mendiami planet ini. Setiap manusia menjalani peran dalam kehidupannya masing-masing dengan keunikannya. Setiap manusia secara fisik dan psikis, berbeda dari manusia lainnya. Dalam kehidupan manusia, ada fenomena kemiskinan, kekayaan, kegagalan, kesuksesan, kesedihan, kebahagian dan fenomena lainnya. Keadaan tersebut bisa dikenali dengan indera dan akal manusia yang mengalaminya maupun oleh manusia lainnya. Itulah fenomena.
Manusia berada di dalam alam yang memiliki aturan. Alam ada dan hidup dengan aturannya, hukum alam. Air dengan sifatnya yang selalu mendatar, selalu mengalir ke permukaan yang lebih rendah. Tumbuhan berfotosintesis dengan karbon dioksida dan menghasilkan oksigen. Pembakaran membutuhkan oksigen dalam prosesnya. Permukaan bumi acap kali bergerak (gempa) mencari kesetimbangan.
Hukum alam bersifat pasti. Tidak ada tindakan alam yang mengejutkan dan melenceng dari garis aturan. Semua unsur alam saling terkait dalam hubungan sebab akibat. Bencana-bencana alam yang terjadi adalah reaksi alam dalam hukumnya. Banjir, kebakaran hutan, gunung meletus dan gempa sekalipun, bukanlah tindakan alam yang melenceng dari hukumnya. Jika ada bencana yang tidak bisa diperkirakan manusia, gempa misalnya, maka itu terletak pada batas akal manusia. Saat ini manusia belum bisa memperkirakan ataupun mencegah gempa. Suatu saat nanti, bukanlah hal muskil manusia bisa memperkirakan kapan dan di mana akan terjadi gempa. Bencana besar di awal abad 21 ini adalah tsunami. Saat ini manusia mampu mengetahui beberapa jam sebelum terjadinya tsunami. Kelak, akan berubah, ilmu manusia selalu bertambah.
Itulah hukum alam. Bagaimana hukum nasib manusia? Apakah jalur hidup manusia selalu berada pada garis aturan? Apakah hidup manusia berada dalam garis kepastian hukum? Apakah manusia bisa mengetahui hari esoknya? Adakah kepastian dalam garis hidup manusia? Satu detik dari sekarang adalah ghaib. Ghaib, hanyalah ada dalam waktu esok, hari akhir. Anda boleh berkata setan adalah ghaib, begitu juga malaikat, jin dan bahkan Tuhan adalah ghaib. Tapi bagi saya, setan, jin, malaikat dan bahkan Tuhan tidaklah ghaib. Kita semua menyadari keberadaannya. Nurani kita mengakuinya dan akal kita mampu mengenalinya.
Manusia bisa bertindak untuk saat ini dan berencana untuk saat nanti. Namun tidak satu pun yang memberi kepastian terjadinya rencana tersebut. Mengapa? Karena terlalu banyak faktor dalam hidup seorang manusia. Seseorang bukanlah pelaku tunggal di bumi ini. Hidup seorang manusia berhubungan dengan hidup manusia lainnya. Nasib seorang manusia berhubungan dengan nasib manusia lainnya.
Dengan kemampuan seorang manusia yang diciptakan Tuhan, tidak berlebihan bagi manusia menemukan hukumnya, mengetahui tentang dirinya, tentang garis hidupnya, tentang nasibnya. Tidak akan ada jawaban tanpa pertanyaan. Jawaban tidak akan menjadi jawaban jika tidak ada pertanyaan. Tidak akan ada pertanyaan jika tidak ada ketidaktahuan. Tidak akan ada ketidaktahuan pada manusia jika ia tidak menyadari ketidaktahuan itu. Dan kesadaran hanya ada dalam akal yang berpikir.
Pertanyaan membutuhkan jawaban dan manusia menginginkan jawaban yang benar. Kebenaran yang mutlak hanya dimiliki oleh sesuatu yang mutlak. Yaitu pemilik seluruh semesta, Tuhan. Bagaimana manusia meminta pada yang Maha benar? Dengan cara yang benar. Apakah benar itu? Sesuatu yang datang dari yang Maha benar, Tuhan. Dan sesuatu itu adalah AlQuran.
Apakah tulisan ini adalah sebuah kebenaran? Ya, catatan ini adalah sebuah kebenaran bagi penulis. Kebenaran ini belum tentu kebenaran bagi orang lain. Namun setiap manusia tidak bisa memaksakan kebenaran miliknya menjadi kebenaran milik orang lain, bahkan seorang pemegang otoritas sekalipun. Pemerintah menetapkan aturan untuk sistem masyarakat yang diperintah agar mentaatinya. Masyarakat berkewajiban mengikuti sistem hukum yang berlaku di
Ini bukanlah pertanyaan untuk memisahkah jiwa dan raga. Karena tidak ada di kehidupan bumi ini tidak ada jiwa tanpa raga begitu juga sebaliknya. Mentaati hukum tidak menjadikan manusia menjadi zombi, makhluk yang berbuat tanpa kesadaran. Intinya, tulisan ini adalah salah satu dari sekian banyak pandangan manusia yang bergerak bebas dalam koridor akal sehat.
Dengan tahap berpikir demikian, penulis melakukan upaya menjawab pertanyaan dalam acuan alQuran. Menemukan jawaban adalah mencari tahu. Langkah seksama dalam mencari tahu adalah mengamati. Maka inilah sebuah pengamatan tentang nasib manusia.
Nasib manusia adalah segala hal yang terjadi pada diri seseorang selama hidupnya. Apakah makna nasib baik dan nasib buruk? Setiap orang memiliki pengertian berbeda tentang ini. Nasib baik bagi seseorang belum tentu dipandang sebagai nasib baik bagi lainnya. Begitu juga dengan arti nasib buruk. Namun secara umum nilai baik dan buruk nasib seseorang terletak pada harapan (sebelum tertimpa nasib tersebut) dan reaksi orang tersebut ketika menjalani nasib tertentu. Jika yang terjadi sesuai harapan, inilah nasib baik. Dan sebaliknya. Ditilik dari reaksi, jika gembira ketika mengalami suatu nasib, maka itulah nasib baik. Begitupun sebaliknya, jika perasaan negatif muncul saat mengalami nasib tersebut, itulah nasib buruk. Perasaan negatif di antaranya sedih, kecewa, merasa gagal, putus asa.
Pernahkah melihat di sekitar Anda? Bermacam-macam karakter manusia menjalani beragam nasib. Apakah orang yang baik perilakunya bernasib baik? Belum tentu. Ini tergantung pula pada faktor lain, misalnya kemampuan intelektual seseorang. Lalu, apakah orang pandai yang berperilaku baik akan memiliki nasib yang baik? Belum tentu juga. Contohnya jika orang itu tidak mampu sekolah karena miskin. Akhirnya ia tidak bisa menjalani hidup layak karena tidak berbekal pendidikan yang cukup. Lalu, apakah orang yang pandai, berkelakuan baik dan kaya, akan bernasib baik? Lagi-lagi, belum tentu. Dia bisa saja ditipu orang hingga habis kekayannya, dia bisa saja tertembak maling di rumahnya, tertabrak pengemudi mabuk di jalan dan nasib buruk lainnya.
Karena, ada banyak faktor penentu yang berada di luar dirinya. Contohnya, apakah Anda yang mengendarai kendaraan dengan baik, mematuhi peraturan lalu lintas pasti akan selamat di jalan? Belum tentu. Karena ada orang lain yang juga berada di jalan raya yang tidak mematuhi peraturan dan ngebut di jalanan. Artinya setiap manusia berhubungan dengan manusia lainnya, perilaku seseorang mempengaruhi orang lainnya. Jika begitu, nasib seorang manusia berkaian dengan manusia lainnya.
Catatan pengamatan ini menjadi petunjuk bagi saya untuk mengetahui siapa penentu nasib manusia. Saya tidak ingin terombang-ambing dalam ketidakpastian selama hidup. Berbuat tanpa bisa mengetahui keberhasilannya. Karena banyak faktor yang berada di luar kendali diri karena menyangkut diri orang lain. Tapi dengan catatan tegas, faktor-faktor yang berada di luar kendali saya bukan berarti di luar kendali seluruh manusia. Tuhan tidak menentukan nasib manusia. Jadi, manusia adalah penentu nasibnya sendiri. Dengan catatan, seluruh manusia. Jangan sekali-sekali menyalahkan Tuhan atas nasib buruk Anda. Saya percaya harus ada tata aturan nasib manusia.
Penelitian ini menggunakan metode pengamatan. Terdapat dua garis besar pengamatan, yaitu pengamatan verbal dan non verbal. Pengamatan verbal adalah mengamati nasib manusia dari informasi verbal, baik bersifat langsung atau tidak langsung (melalui media
Pengamatan
Pengamatan adalah sebuah metode penelitian tertua yang pernah ada di bumi ini. Sama halnya, ‘melempar’ adalah tindakan tertua dari manusia ketika mempertahankan diri. Manusia pra sejarah menggunakan batu untuk melempar ketika diserang. Alat pertama yang digunakan manusia untuk melakukan pengamatan adalah indera tubuh, yaitu mata, telinga, hidung, lidah dan kulit. Alat indera yang paling jauh jangkauan pengamatannya (terhadap objek) adalah mata, telinga dan hidung. Artinya manusia bisa berada lebih jauh dari objek yang dilihat daripada dari objek yang disentuh. Manusia bisa melihat objek sejauh titik pandang terjauhnya. Ini tergantung pada besar kecilnya objek, kualitas mata manusia dan faktor lingkungan. Dengan jarak yang sama, pesawat terlihat lebih jelas daripada burung.
Mata normal dapat melihat lebih baik jika dibandingkan dengan mata rabun (rabun jauh atau rabun dekat) tanpa bantuan kaca mata. Sama halnya pada telinga dan hidung. Manusia bisa mencium aroma sesuatu sebelum menyentuhnya. Dan tidak bisa terjadi sebaliknya. Selain indera, aktivitas mengamati juga dipengaruhi faktor lingkungan. Faktor lingkungan, misalnya, suara percakapan terdengar lebih jelas ketika suasana di sekitarnya sunyi daripada ketika suasana riuh.
Dalam mengamati, seperti halnya aktifitas lain, seluruh organ tubuh turut bekerja berisinergi di dalamnya. Ketika memasak misalnya, tangan bekerja memasak, disertai pandangan mata, hidung mencium aroma masakan dan di antara kegiatan seluruh indera itu, terjadi proses berpikir, menentukan langkah-langkah dalam memasak bahkan mungkin juga berpikir mencari cara untuk membuat masakan menjadi lebih lezat. Begitu juga ketika membaca, menulis, menonton televisi, bekerja atau bahkan berbaring sekalipun. Kesadaran diri merupakan batas pikir manusia. Manusia selalu berpikir selama manusia masih terjaga, tidak tertidur, pingsan ataupun mati. Adapun kapasitas dan intensitas berpikir bergantung pada proses berpikir tersebut.
Dalam hal berpikir, ada idiom yang lazim berkembang di masyarakat, yaitu berpikir baik (positive thinking) dan berpikir jelek (bad thinking). Di dalam alQuran, terdapat istilah suudzan atau berprasangka buruk() dan khusnudzan atau berprasangka baik (). Prasangka, praduga atau hipotesis menempati porsi paling besar dalam proses berpikir manusia. Hampir seluruh penemuan ilmiah berawal dari prasangka yang berhasil dibuktikan kebenarannya. Untuk penelitian ini, pengamatan dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan. Pengamatan juga dilakukan untuk menemukan bukti prasangka menjadi nyata. Artinya Pengamatan tidak ditekankan sebagai alat untuk mencari jawaban pertanyaan Siapakah penentu nasib manusia?. Pencarian jawaban bertitik berat pada analisa hasil pengamatan.
Dengan mengetahui hukum yang berlaku pada nasibnya, manusia dapat menghindari titik terburuk sikap manusia pada Tuhan. Apakah titik terburuk sikap manusia? Titik terburuk sikap manusia adalah ketika manusia melimpahkan keburukan pada Tuhan. Yaitu ketika ia menyalahkan Tuhan atas nasib yang menimpanya, ketika manusia berpikir keburukan yang menimpanya datang dari Tuhan dan ketika manusia memfitnah Tuhan. Padahal, segala yang baik hanya berasal dari Tuhan dan segala yang buruk datang dari manusia itu sendiri.
Sikap terbaik yang layak manusia lakukan adalah berpikir baik (posistif thinking) dan bertindak baik. Pikiran dan tindakan yang baik itu muncul dari pemahaman yang benar. Karena nasib buruk merupakan hal yang paling sering membuat manusia berada pada titik terburuk itu, sudah seharusnya manusia memahami hukum yang mengatur nasib manusia. Ini untuk menghindari sikap membabi buta dan berprasangka buruk pada Tuhan.
Bagaimana hukum yang mengatur nasib manusia? Pertanyaan ini akan berkembang pada sebuah pertanyaan besar “Siapa yang menentukan nasib manusia?”.
Jawaban-jawaban atas pertanyaan ini diperoleh dengan membaca اِقْرَأْ yaitu mempelajari dan memahami petunjuk kauniyah (verbal) dan alamiah. Mencari tahu dengan mengamati dan menganalisa.
Pengamatan ini disertai pencatatan hasil pengamatan ke dalam pola-pola matematis. Pemodelan ini untuk menunjang proses analisis penelitian. Layaknya pola dan pemodelan yang bertujuan menyederhanakan gambaran permasalahan, pola-pola hasil pengamatan ini bertujuan menyederhanakan fenomena yang diamati.
Manusia sebagai makhluk sosial adalah objek rumit dengan berbagai keunikan. Tidak ada manusia yang serupa, dalam bentuk fisik maupun bentuk budaya yang dimilikinya. Namun dari beragam keunikan tersebut, muncul pengelompokan-pengelompokan yang dengan sendirinya terbentuk. Contohnya, secara bahasa (linguis) dan tempat, muncul kelompok orang Indonesia, orang Belanda, orang Minang, orang Jawa dan lainnya. Contoh pengelompokkan secara fisik, misalnya menggolongkan yang cantik, jelek, berkulit hitam, berkulit putih, bertubuh pendek, bertubuh tinggi dan macam-macam kategori lainnya. Lebih dalam lagi, dalam interaksi sosial, muncul penjulukan, orang pemarah, orang pendiam, orang periang, ramah dan sebagainya. Artinya, secara naluriah, manusia terbiasa membuat pola mengidentifikasi dan pengelompokkan di dalam pikirannya.
Pemolaan ini dalam dunia akademis diilmiahkan menjadi beberapa macam model. Namun ini bukanlah penelitian yang bersifat tertutup. Ini adalah sebuah penelitian terbuka yang mendayagunakan seluruh kemampuan manusia, baik bersifat akademis maupun non akademis yang berkembang dalam masyarakat umum. Batas dari penelitian adalah logika. Tidak setiap pola berpikir yang ada dalam masyarakat adalah pola berpikir yang benar atau pola berpikir ilmiah. Sehingga, tetap diberlakukan prinsip-prinsip ilmiah.
Dalam penelitian ini, layaknya penelitian-penelitian lain, referensi menempati tempat penting. Sebuah teori adalah sebuah kebenaran yang menjadi pijakan kegiatan ilmiah selanjutnya. Sifat kebenaran adalah mutlak selama tidak ada kebenaran baru yang meruntuhkan kebenaran sebelumnya. Sebuah teori adalah benar selama ia terbukti benar. Dalam hal ini AlQuran menempati fungsi referensi utama dan teori-teori ilmiah berada di tempat selanjutnya.
Sejak alQuran turun sampai saat ini, ada beberapa versi alQuran. Perbedaan di antara versi itu umumnya terletak pada cara penulisan dan penyusunan . Secara essensial, di antara kitab-kitab suci lainnya, AlQuran adalah kitab suci yang paling serupa (satu versi umum) di dunia.
AlQuran yang digunakan adalah alQuran.......Sedangkan hadits yang digunakan adalah hadits shahih Bukhari Muslim dan
Ada dua item pada permasalahan ini, yaitu nasib dan manusia. Keduanya termasuk ke dalam kata benda (nominal). Nasib adalah keadaan yang disandang pelaku dalam jangka waktu tertentu. Nasib hidupnya adalah keadaan yang disandang selama hidupnya. Nasib pemabuk adalah keadaan yang disandang selama ia menjadi pemabuk. Nasib pekerja adalah keadaan (predikat) yang disandang selama ia menjadi pekerja. Jadi, nasib adalah kata benda yang diikuti kata benda penjelas. Tidak seperti kata benda lainnya, kata ‘nasib’ tidak bisa menjadi kata benda pelaku.
Ada dua kategori nasib, yaitu nasib baik dan nasib buruk. Nasib baik artinya bila hasil atau keadaan yang bisa dicapai sesuai keinginan manusia tersebut. Sedangkan nasib buruk adalah bila hasil atau keadaan yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan manusia tersebut.
Di masyarakat Indonesia, kata ‘nasib’ diperuntukkan bagi keadaan yang disandang dalam jangka waktu yang lebih lama. Contohnya, seseorang tidak berhasil menang di salah satu pertandingan balap sepeda, nasibnya tidak disebut nasib kalah atau buruk. Tapi, ketika ia hampir selalu kalah dalam setiap pertandingan, maka ia bisa disebut bernasib kalah atau buruk. Bahkan ada julukan baginya, yaitu pecundang (bad looser). Sama halnya ketika ada seorang laki-laki yang berkali-kali ditolak cintanya oleh seorang gadis. Sehingga ia dikenal sebagai pecundang cinta.
Karena itu, kondisi-kondisi laten (permanen) sering dijadikan ciri-ciri nasib seseorang. Contohnya, si sukses, si pecundang, si kaya, si miskin. Semuanya adalah keadaan nasib yang berubah menjadi julukan bagi orang-orang tertentu. Padahal, tidak setiap saat si sukses, selalu berhasil mencapai tujuan. Begitu pula halnya dengan si kaya atau si miskin. Jika kekayaan didefinisikan sebagai kemampuan memenuhi kebutuhan hidup, maka tidak setiap saat si kaya, bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Dan tidak selalu si miskin, tidak bisa memenuhi kebutuhan hidupnya.
Namun demikian, manusia melihat nasib seseorang dari modus nasibnya. Nasib apakah yang paling sering dialami oleh orang tersebut.
Berdasarkan definisi nasib, yaitu hubungan antara tindakan dan hasil yang dicapai oleh seseorang, dengan demikian dapat ditentukan faktor-faktor nasib. Karena nasib mencerminkan keadaan yang disandang oleh manusia yang notabene memiliki ruang dan waktu, harus dilibatkan pula faktor waktu dan ruang tersebut.
Faktor-faktor berdasarkan waktu adalah masa-masa terjadinya nasib tersebut. Dan faktor ruang adalah hubungan manusia tersebut dengan lingkungannya. Ada lingkungan alam dan lingkungan sosial, yaitu manusia lainnya.
Ikhtiar adalah istilah dalam ilmu Tauhid, yang artinya keinginan sendiri atau memilih.
Pandangan manusia terhadap nasib
Artinya bagaimana pandangan manusia (sampel) terhadap pengertian nasib. Dalam pengertian tersebut bisa diketahui keyakinannya tentang hukum yang berlaku pada nasibnya, dan siapakah yang menentukan nasibnya menurut pandangan setiap sampel. Secara umum dibuat pemilahan pandangan menjadi:
1. Manusia sebagai pelaku aktif
Pelaku aktif artinya orang yang mengendalikan nasib. Manusia sebagai pelaku aktif artinya orang yang berkeyakinan nasibnya sepenuhnya berada di tangannya.
2. Manusia sebagai pelaku pasif
Manusia kelompok ini adalah manusia yang percaya nasibnya tidak berada sepenuhnya di tangannya sendiri. Namun sayangnya, pengertian ada kalanya nasibnya berada di luar dirinya itu bermakna bahwa nasibnya berada di tangan Tuhan. Artinya Tuhan turut menentukan jalan hidupnya. Golongan ini percaya, pada saat-saat tertentu dan masalah-masalah tertentu, Tuhan melakukan interupsi dan mengubah jalan hidupnya.
Abdullah Gymnastiar menuturkan dalam konsep manajemen qalbu, Tuhan telah menggariskan nasib untuk manusia, dan manusia diwajibkan berikhtiar untuk menjemputnya. Contohnya, Tuhan memberi rejeki untuk si A sejumlah sekian, namun hasilnya tergantung pada ikhtiar A tersebut, apakah A mampu menjemput rejeki yang tersedia untuknya.
Pendapat ini adalah pendapat moderat yang berada di tengah antara Si pasrah dan Si ambisius. Saya berkesimpulan, Aagym berpendapat bahwa ada batas usaha manusia dalam menentukan nasibnya. Yaitu batas yang telah ditentukan oleh Tuhan.
Saya berpikir, Aagym salah mengidentifikasi batas tersebut. Batas ikhtiar manusia bukanlah batas yang telah ditentukan Tuhan untuk tiap manusia, batas itu adalah hal-hal yang berada di luar kendalinya, yaitu orang lain. Kita dipengaruhi oleh orang lain dan begitu sebaliknya. Untuk itulah Din Islam diturunkan untuk mengatur kehidupan manusia menuju keadaan ideal. Di mana tidak terjadi hubungan saling merugikan antara sesama manusia.
Probabilitas Manusia Dan Nasibnya
Pengamatan ini dilakukan terhadap beberapa sampel berdasarkan beberapa perimbangan.
Seluruh sampel dalam penelitian ini adalah seluruh sampel karakter yang berhubungan dengan peneliti dalam jangka waktu tertentu. Dalam jangka waktu tertentu artinya tidak ada sampel yang berhubungan dengan peneliti secara aksidental. Misalnya, orang-orang yang berada bersama peneliti di dalam bis kota, atau orang-orang yang peneliti temui di tempat-tempat umum dan tidak terjadi kontak lebih lanjut. Pemilihan ini bertujuan menghindari kesalahan dalam pengamatan. Terdapat beberapa populasi selama hidup penulis.
Untuk menyederhanakan pendeskripsian hasil penelitian, saya membuat mengelompokkan setiap pandangan dalam kategori tertentu. Berikut penjelasan istilah-istilah yang mewakili deskripsi setiap kategori pandangan tentang nasib oleh masing-masing sampel penelitian.
Berikut kategori populasi berdasarkan peran:
Populasi keluarga
Kelompok ini terdiri dari orang-orang yang berada serumah dengan peneliti.
Sampel Persentase nasib baik Pandangan tentang nasib Sikap terhadap nasib
Ayah 60 % - 90 %
Ibu 60 % - 90 %
Kakak ke 1 30 % - 50 %
Kakak ke 2 60 % - 75 %
Kakak ke 3 30 % - 50 %
Kakak ke 4 50 % - 75 %
Kakak ke 5 30 % - 50 %
Kakak ke 6 30 % - 50 %
Kakak ke 7 30 % - 50 %
Tante 50 % - 60 %
Suami 80 % - 90 %
Definisi atau pembatasan istilah:
Setiap istilah memiliki pengertian yang berbeda-beda pada setiap orang. Pengertian atau pemahaman ini dipengaruhi oleh latar belakang budaya, pendidikan, gender atau bahkan tingkat kecerdasan (IQ). Secara ilmiah, setiap kata memiliki batasan tertentu pengertian yang dibakukan ke dalam bentuk kamus, bentuk asal-usul kata, bentuk harfiah, bentuk etimologis. Untuk setiap istilah dalam penelitian ini, penulis mengambil batasan pengertian dari seluruh bentuk tersebut, yaitu sebagai berikut:
1. Nasib baik adalah
2. Nasib buruk adalah
3. Populasi
Populasi kampung halaman
Populasi lingkungan kampus
Populasi lingkungan kerja
Populasi lingkungan sosial
Populasi maya
Populasi maya artinya kumpulan individu yang diketahui melalui pengamatan media massa. Media massa yang digunakan adalah media massa cetak (surat kabar, majalah, buku) dan media massa elektronik (televisi, radio dan websites).
Populasi maya diikutsertakan untuk mengetahui sampel manusia dan nasibnya secara lebih luas. Karena saat ini kemampuan media massa menjadi salah satu kemampuan terkuat dalam mencari dan menghimpun data. Dalam hal ini termasuk data informasi yang berkaitan dengan manusia dan nasibnya.
Pemetaan Nasib Manusia
Pemetaan ini merupakan pemetaan sampel-sampel penelitian. Seluruh sampel diperoleh dari pengamatan langsung dan pengamatan tidak langsung. Pengamatan langsung adalah pengamatan terhadap objek yang melakukan kontak langsung dengan peneliti. Penggunaan telepon, surat, email dan sejenisnya termasuk ke dalam komunikasi langsung. Pengamatan tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan terhadap objek melalui media perantara. Macam-macam media yang digunakan adalah media massa (media cetak&elektroktronik) dan media personal. Media personal artinya media yang digunakan manusia untuk menerima dan memberi informasi baik dilakukan secara sengaja atau tidak. Kabar, informasi dari mulut ke mulut adalah media pengamatan jenis ini.
Terdapat dua item penelitian, yaitu manusia dan nasib. Berkaitan dengan nasib sebagai objek dan manusia sebagai objek penjelas, terbagi xxxxx probabilitas.
Kategori sampel manusia:
1. Manusia yang bertindak tanpa berdoa dalam mencapai keinginan
Manusia model ini tidak selalu manusia yang tidak beragama. Ada manusia beragama (agama apapun) yang tidak berdoa untuk mencapai tujuan. Ini tidak berkaitan pada agama yang ia peluk namun pada kualitas ketaatannya pada agama tersebut.
2 Manusia yang berdoa tanpa bertindak dalam mencapai keinginan
3 Manusia yang tidak berdoa dan tidak bertindak dalam mencapai keinginan
Manusia yang tidak memiliki keinginan termasuk dalam kelompok ini. Karena pada dasarnya tidak ada manusia yang tidak memiliki keinginan. Bahkan orang yang tidak menginginkan apapun adalah orang yang memiliki keinginan, yaitu ingin mati. Orang seperti ini tidak melakukan bunuh diri dengan alasannya masing-masing.
4 Manusia yang bertindak dan berdoa dalam mencapai keinginan
Kategori sampel nasib manusia:
1 Bisa mencapai keinginan dengan mudah
Batas kemudahan adalah kondisi tercapainya keinginan tanpa melewati usaha maksimal, terjauh, terbaik dari kemampuan individual subjek.
2 Bisa mencapai keinginan tetapi tidak dengan mudah
3 Tidak bisa mencapai keinginan dengan mudah
4 Tidak bisa mencapai keinginan dengan mudah atau tidak mudah
Kategori hubungan manusia dan nasibnya:
Manusia Saling Terhubung
Alam Saling Terhubung?
5. Penciptaan Alam
6. Kinerja Alam
7. Disfungsi Alam (melenceng)
8. Bencana-bencana Besar Sepanjang Sejarah
